artist interview profile

sepenggal kisah di balik perjalanan Journ(al)ey by Citrarini Ceria

September 9, 2012

Ga cuma perut nona @cicceria a.k.a. Citrarini Ceria aja yang butuh makan, hatinya pun memerlukan makanan. Membuat notes custome made, itulah asupan gizi untuk hatinya. Dirinya tak hanya sekedar berbisnis memproduksi notes dan bookmarks (pembatas buku), masing – masing produk dibuat secara personal melalui sentuhan gambar-gambar tangannya. Bermodalkan gemar menulis, akrab dengan kertas sejak kecil, serta demand dari kawan-kawannya, lahirlah Journ(al)ey..

Buah tangan iseng – iseng nona Cicceria untuk miss Flamingo ♥♥♥ thx a bucket

“Semuanya berawal dari hobi kok, emang dari kecil saya udah suka skali sama kertas (aneh ya?) hehe.. Kebetulan ayah saya ialah peneliti di bidang rayon dan kertas, jadi sedari kecil memang saya sudah ‘ketemu’ berbagai macam jenis kertas dari sampel-sampel yang dikerjakan ayah saya. Pokoknya paling ga bisa liat kertas nganggur, pasti bakal saya ‘proyekin’ tuh kertas, entah dicorat-coret, digunting-tempel, dilipet-lipet, whatever it is.”

“Lalu, waktu mulai masuk kuliah, kebetulan saya kuliah di seni rupa, maka makin akrablah saya sama kertas-kertas lagi. Saya memang suka mengumpulkan kertas-kertas sisa, lalu dijadikan buku kecil untuk saya coret-coret sendiri. Dan buku itu selalu saya buat setiap tahun sejak awal saya berkuliah. Saya pakai buku itu untuk sketchbook, buku catetan, tempat naro tiket-tiket penting, bon-bon makan sama temen-temen, sampe nempelin bungkus-bungkus cokelat atau permen yang saya suka. Pokoknya, isinya itu ya cerita hari-hari saya, menurut saya, semakin ancur, semakin tebel, dan banyak isinya si buku itu, maka semakin besar arti buku itu untuk saya. Semakin banyak hal-hal yang mungkin ga akan cukup saya tampung di kepala saya, tapi masih bisa disimpen di buku itu.”

“Sampai akhirnya di tahun-tahun terakhir kuliah, ketika temen-temen saya selalu membolak-balik buku ‘keramat’ saya ini, dan masing-masing mulai mengapresiasi isinya yang (sebenarnya) cenderung berantakan dan coretan-coret atau kolase-kolase yang saya buat, mereka bilang menarik, isinya seru, bagus, dan lain-lain. Sampai mulailah dari satu-dua teman yang minta dibikinin buku yang mirip. Katanya supaya mereka juga bisa mengisi seperti saya di buku itu. Dari situ, saya mulai membuat pesanan-pesanan mereka. And then I realize, that I enjoy it so much.”

Journ(al)ey

“Nama ini sebenarnya belum ada waktu awal-awal saya ngerjain pesenan temen-temen. Nama ini baru muncul setelah saya berhasil terseleksi ikut Mini Art Project di kampus saya yang bertajuk 15 x 15. Waktu itu (sekitar tahun 2009) saya membuat karya berupa buku-buku saya ini yang saya buat dalam bentuk mini.

{FYI, 15 x 15 Mini Art Project ini sebuah event yg diselenggarakan KGB (Keluarga Grafis Berseni) ITB untuk umum dan seniman-seniman kontemporer yang salah satu syarat karyanya ialah ukuran karyanyanya tidak boleh lebih dari 15 x 15 cm}

Jadi saya membuat buku-buku khas saya, namun dengan ukuran mini. Di sini, saya memberi konsep mengenai perjalanan. Karena menurut saya hidup itu ya suatu bentuk perjalanan. Dan selama saya memiliki buku yang saya buat ini, saya menaruh banyak sekali catatan perjalanan hidup sehari-hari saya di dalamnya. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, tiba-tiba terlintas dua kata. Journal dan journeyJourney itu sendiri memiliki arti harafiah perjalanan. Karena saya menaruh banyak cerita perjalanan hidup saya sehari-hari di dalam buku ini. Dan journal itu sendiri merupakan representasi kehadiran buku yang saya pakai sebagai wujud fisik, tempat saya menaruh bagian-bagian dari journey itu sendiri. Terus saya sadar, dua-duanya punya susunan huruf yang mirip. Saya putuskan untuk menggabungkan dua kata tersebut. Journal yg berarti catatan dan journey yang berarti perjalanan, maka jadilah Journ(al)ey yang harafiahnya berarti Catatan Perjalanan. Simple way to explain all my works in these books.”

Differentiation

“Saya selalu menjawab ini dengan satu hal. Gambar-gambar di dalamnya asli lho, digambar tangan pakai media cat air dan pena, bukan cetakan atau print dan juga bukan foto. Saya membuat satu per satu journal saya ini. Saya ingin setiap orang bisa merasakan nilai personalnya. Kalo capek ya capek pasti, tapi kalo dilakukan dengan hati ga gitu kerasa kok, dan semuanya terbayar kalo si pemesan suka dan puas sama hasilnya, apalagi karena mereka juga appreciate dengan proses pembuatannya. Kebanyakan journal, notes, diary, notebook, atau semacamnya, dibuat menarik dari luarnya saja. Saya selalu kecewa setiap kali membeli notes yang bagus covernya, mahal harganya, tapi waktu saya buka, di dalamnya polos saja, atau garis-garis saja, dengan desain yang membosankan atau monoton. Saya lalu bertekad untuk mulai membuat sendiri buku saya dengan ilustrasi yang saya buat sendiri supaya saya ga bosan nantinya ketika membuka-buka buku itu.”

Running my own business..

Sebelum saya akhirnya memutuskan untuk ga bekerja, saya juga sempet ngerasain kerja buat orang lain… Berhubung saya lulus dari jurusan Kriya Tekstil dan kebetulan selama kulia, terutama waktu tugas akhir saya cukup memperdalam bidang batik, selepas kuliah saya langsung ditawari untuk bekerja di salah satu rumah batik di Bandung. Batik, merupakan salah satu passion saya selain kertas, hehe.. Saya lalu sempat juga bekerja sebagai desainer di salah satu produsen tekstil, selama saya bekerja di tempat-tempat itu, Journ(al)ey tetap saya jalankan, saya tetap mengerjakan pesanan beberapa teman yang (walaupun) akhirnya jadinya lamaa BGT, satu buku bisa sampe berbulan-bulan. Dan keteteran karena saya kelelahan disambi bekerja.”

“Sebenarnya saya cukup menikmati pekerjaan saya, tapi selalu ada yang kurang rasanya, sampai pada pertengahan tahun lalu, alhamdulillah saya diberi kesempatan oleh Deplu untuk mengikuti beasiswa seni dan budaya mereka. Saya diberikan pendidikan gratis sebagai satu-satunya perwakilan Indonesia dalam bidang batik di antara peserta-peserta dari seluruh ASEAN. Selama 3 bulan saya tinggal bersama teman-teman dari seluruh  ASEAN, dan berkutat di satu bidang keilmuan secara spesifik, saya lalu menyadari, untuk mengembangkan diri dan skill itu ga bisa setengah-setengah. Kamu harus terjun langsung dan totalitas sangat diperlukan. Komitmen itu yg paling penting.

“Semacam diingatkan, kenapa selama ini saya merasa ada yang kurang, walaupun saya punya pekerjaan dan gaji yang cukup, tapi saya selalu merasa terkejar-kejar. Pengerjaan Journ(al)ey yang biasanya saya kerjakan dengan hati, malah berbalik jadi semacam beban, karena setelah lelah pulang kerja, lalu teringat masih harus mengerjakan pesanan Journ(al)ey. Rasanya malah jadi bumerang buat saya. Maka setelah beasiswa dari Deplu tersebut selesai, saya punya keputusan baru untuk berhenti kerja dan fokus di Journ(al)ey. Sebelum saya benar-benar jadi berbalik menuduh Journ(al)ey sebagai beban, karena saya tahu walaupun saya bisa makan setiap hari dari uang hasil gaji kantor saya, tapi hanya dari Journ(al)ey-lah hati saya bisa makan juga.”

Vision Mission

“Hmm.. Ga neko-neko kok, saya cuma ingin Journ(al)ey jadi salah satu alternatif produk yang bisa dipilih oleh orang-orang yang membutuhkan notes dan buku catatan. Saya ingin orang-orang lain bisa merasakan betapa menyenangkan dan berharganya mengumpulkan serpihan-serpihan kecil dari sebagian perjalanan hidupnya di sebuah notes yang personal untuk mereka. Yang bukan dicetak dengan massal dan ga banyak orang punya yang sama persis.”

In next 5 years

“Melihat konsep produk saya yang custom made ini, sulit untuk saya membayangkan Journ(al)ey dibuat massal dan besar-besaran. Tidak. Saya juga tidak ingin melihat Journ(al)ey jadi pasaran, hehe.. Tapi bukan berarti saya tidak mau Journ(al)ey menjadi besar, saya selalu ingin Journ(al)ey bisa diterima dan dikenal banyak orang. Saya ingin, orang-orang bisa mengerti dan melihat Journ(al)ey dari sisi yang berbeda, bahwa ini produk yang berbicara dengan hati. Bukan produk cetakan yang dibuat massal. Saya ingin 5 tahun ke depan saya sudah punya tim yang akan membantu saya mewujudkan impian ini.”

Other dreams.. 

“Saya ingin membuat pameran kecil. Saya ingin tetap menjalani passion saya dan ngga hidup cuma gara-gara duit. Saya ingin menikah dan jadi ibu yang baik sambil tetap berkarya dimanapun saya berada nantinya.”

Succees

“Sukses itu ketika kita bisa menikmati apapun itu yang kita kerjakan dengan hati yang tulus, ikhlas, dan bisa membahagiakan orang lain juga.”

Best achievement

“Wah kayanya semua yang saya lalui bersama Journ(al)ey selama ini smuanya terbaik dan berkesan buat saya. Journ(al)ey yang membawa saya sampai di hari ini, dan seperti saya bilang tadi, memberi saya makan, jiwa dan raga. Hehe..”

 

 

Terimakasih nona Cicceria telah berbagi kisah. Sukses selalu, keep shinning keep glowing.

Intip karyanya disini

Journ(al)ey

FB

♥♥♥,

miss Flamingo

You Might Also Like

6 Comments

  • Reply tria nursatiti September 9, 2012 at 7:25 pm

    nice to hear from you teh ciceeeeee :D. been looking for you a year ago since i’ve changed my number. ingin dong akuuu jurnalnyaa. thx yah LOTF sudah meliput karya teh cice. yay! senangg!

  • miss Flamingo
    Reply miss Flamingo September 10, 2012 at 8:19 pm

    senang sekali di apresiasi tria 😀

  • Reply Citrarini Ceria September 11, 2012 at 10:01 am

    Halo triaa.. udah lama ga ktemu ya kita! Dan terimakasih LOTF sudah mau mendengarkan cerita sayaa 😀

  • Reply Niken October 8, 2012 at 8:41 pm

    what a inspiring story! 🙂
    Semoga Journ(al)ey bisa makin sukses.

  • Reply EARTHY by JOURN(AL)EY | laughonthefloor.com | chit - chat. lifestyle. music. art exhibition. artist. dream. inspiration. story. bandung. miss flamingo. April 6, 2014 at 9:03 am

    […] di sini untuk berkenalan dengan JOURN(AL)EY dan nona Cice lebih dalam […]

  • Leave a Reply