culinary

Bakso Sehat Tella Meatball

July 5, 2017

“Dengan pengorbanan sekecil-kecilnya untuk memperoleh hasil yang sebesar-besarnya..”

Demi mengeruk keuntungan yang banyak, umumnya pedagang tak sungkan-sungkan menghalalkan segala cara. Mulai dari cara yang mudah, instan, hingga irit. Kalau bisa murah, ngapain pakai yang mahal. Kalau bisa mudah, ngapain harus susah. Rasa mementingkan diri sendiri ini dilakukan tanpa mau tahu apa dampaknya bagi orang lain. Kebanyakan tahu, tapi ya pura-pura ga tahu saja. Keberadaan penjaja makanan yang memilih menggunakan pewarna tekstil agar irit serta menarik secara visual, menabur MSG banyak-banyak sebagai subtitusi daging yang harganya selangit, dan ulah lainnya yang masih banyak lagi sudah jadi rahasia umum.

Tapi anehnya, yang beli pun tutup mata, atau pura-pura bego. Lah jelas-jelas warna makanannya mencrang ga wajar gitu ya toh tetap dibeli juga. Sudah tahu tiap habis makan di sana langsung haus-haus lebay, kepala jadi pening, tapi besok-besok datang lagi, datang lagi. Kalau kata Ibu Fatimah, “Pembeli dengan senang hati membeli racun.”

 

 

Sosok Ibu Fatimah yang ramah dan ceria ini miss Flamingo jumpai secara tak sengaja. Waktu itu ia sedang menjaga lapak bakso yang juga menyajikan Veggie Stick, bersama anak perempuannya. Wanita berhijab ini menyodorkan tester bakso berbahan dasar singkong buatannya. “Duh besar amat bu baksonya.. Sedikit aja,” respon spontan miss Flamingo begitu melihat bakso dengan warna pucat tersebut ditusukkan ke garpu plastik. “Cobain aja gapapa, ini tanpa MSG, tanpa pengawet. Pokoknya sehat..”  ucapnya tulus mendorong miss Flamingo untuk mencobanya. Leppp.. Masuk juga bakso singkong tersebut ke dalam mulut dan hmmm.. rasanya unik juga, super empuk, langsung hancur di dalam mulut.

Rupanya, pengalaman hidup berperan besar dalam menumbuhkan kesadaran Ibu Fatimah dan sang suami, Pak Legiman untuk memproduksi makanan sehat. Berawal di tahun 1990 ketika anak pertama pasangan ini lahir. Pada usia dua bulan, si sulung divonis dokter mengidap laringitis. Dua bulan kemudian, bayi yang baru berusia empat bulan ini pun harus dioperasi, “Lehernya dibolongin,” ucapnya. “Tapi setelah dioperasi dan diobati itu bukannya membaik,” tambah ibu dari lima anak ini.

Semesta membawanya berkenalan dengan Ibu Chandra yang menyarankan untuk mencoba pengobatan herbal serta refleksi. Ia diberi ramuan daun karuk yang juga disebut sebagai daun sirih tanah, “Saya dikasih pohonnya, air dari daunnya diminum. Terus pengobatannya direfleksi juga. Atas seijin Allah akhirnya sembuh.. Kan yang memberi kesembuhan Allah, manusia hanya berusaha,” kisahnya. Sejak tahun 1991, keluarga Ibu Fatimah berhenti mengkonsumsi obat kimia dan memilih obat-obatan herbal. “Kalau herbal meningkatkan daya tahan tubuh yang baik, jadi bakteri jahat kalah dengan daya tahan tubuh yang baik,” sambungnya menceritakan hal yang dipercayainya.

Akumulasi pengalaman serta pelatihan yang diperolehnya mengenai bahaya MSG, memantapkan Ibu Fatimah dan keluarga untuk terus memproduksi makanan sehat berbahan alami. Hal ini ga mudah, terkadang bikin galau dan terasa berat, karena ia sadar bahwa apa yang dilakukannya ini melawan arus. Ketika penjaja makanan lain tidak peduli dengan kesehatan konsumennya, tidak demikian dengan Ibu Fatimah, “Masa saya jual racun..”

 

 

Selain memproduksi Tella Meatball, Ibu Fatimah dan keluarganya juga memproduksi panganan sehat lainnya sejak tiga tahun lalu, yakni stik berbahan sayur-sayuran. Ada yang warna hijau dari bayam, ungu dari ubi ungu, krem dari jagung, dan yang krem bintik-bintik dari wortel. Sedangkan Tella Meatball baru diproduksinya 3 bulan terakhir.

Tella Meatball bisa dinikmati di Pasar Rakyat Mesjid Istiqomah, Citarum, Bandung setiap hari Minggu, dari jam 7 pagi hingga 5 sore. Kalau mampir, titip salam untuk Ibu Fatimah dan Pak Legiman ya!

♥ ♥ ♥,

miss Flamingo

 

 

(pictures captured by miss Flamingo)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply