Harapan di Kampung Kolase

July 12, 2015

“People come and go.”

Hore, miss Flamingo punya teman baru! Namanya Zahra dan Shalwa, usianya 4 dan 5 tahun. Miss Flamingo berkenalan dengan dua gadis cilik ini sekitar sebulan yang lalu, tepatnya Sabtu, 19 Juni 2015 – miss Flamingo berkunjung ke Kampung Kolase, yang terletak di RT Siliwangi, Kecamatan Cidadap, Kelurahan Hegarmanah, Bandung. Kalau dari arah Gandok, di sebelah kiri jalan ada Reading Lights. Nah, dari sana jalan terus menyusuri trotoar. Persis sebelum jembatan yang membelah Sungai Cikapundung, sudah terlihat sebuah kolase yang membentuk tulisan Kampung Kolase menempel di tembok putih, yang merupakan dinding rumah warga. “Oh di sini rupanya..”, celetuk miss Flamingo dalam hati sambil membelokkan badan ke arah kiri, menuruni jalan.

Kampung Kolase Project Baur 1 - 1 |laughonthefloor.comZahra dan Shalwa

Sambil menanti batang hidung wanita manis berkacamata, nona Unis yang sudah janji akan jadi guide miss Flamingo ini muncul, mata tak bisa berhenti menyapu pemandangan sekitar yang terasa asing ini. Kampungnya terlihat begitu bersih, hampir tak ada sampah yang berserakan di tanah. Keceriaan dan tawa anak lelaki serta perempuan yang tengah bermain di luar rumah, menyelimuti kampung dengan kehangatan. Tak lama, Unis yang hari itu mengenakan baju berwarna merah pun muncul, siap menemani miss Flamingo bertualang di Kampung Kolase. Zahra yang ramah pun tak menolak ajakan kami untuk ikut serta berkeliling kampung, sementara Shalwa kabur entah kemana, mungkin dia takut diculik hihi..

Kampung Kolase Project Baur #1 3 |laughonthefloor.comNona Unis bersama Zahra

Jarak antar rumah di Kampung Kolase yang ditinggali oleh 35 kepala keluarga terdaftar ini terlihat begitu padat, jalanannya berupa gang sempit yang masih bisa dilewati oleh satu motor. Bisa jadi, keramahan warga serta kondisi lingkungannya yang terpelihara bersih ini menjadi kunci kenyamanan bermukim di sana. Sejak tanggal 14 hingga 21 Juni lalu, beberapa karya kolase yang sudah dipigura digantung manis, tersebar di tembok depan rumah para warga. Selain karya kolase perorangan yang didominasi oleh kaum ibu dan anak ini, terdapat juga mural kolase di beberapa titik kampung yang dibuat secara berkelompok.

Kampung Kolase Project Baur #1 6 |laughonthefloor.comKarya Deborah Kelly, Deborah Kelly x Wayang Cyber, Wayang Cyber (dari kiri ke kanan)

Jadi, sekitar dua minggu sebelumnya, ibu-ibu dan anak-anak ini mengikuti publik workshop berupa kolase kertas bekas bersama seniman asal Australia, yakni Deborah Kelly dan juga Wayang Cyber yang merupakan komunitas mahasiswa seni rupa UPI, Bandung. Sementara itu, para bapak sibuk bergotong royong mengecat dinding warna putih pada sisi perumahan yang dipakai untuk memproyeksikan hasil karya warga dan seniman. Proyek kolaborasi antara seniman yang terjun langsung ke masyarakat, melakukan kegiatan bersama terkait seni, ruang publik, Bandung, dan kebijakan pemerintah ini diinisiasi oleh s.14, diwadahi dalam kegiatan yang dinamai ba.ur (Bandung Art Understanding & Relationship). Proyek ini juga bertujuan untuk melibatkan diri kepada masyarakat sudut kecil kota Bandung melalui aktivitas seni, lebih jauh kolaborasinya bersama warga, seniman lokal dan internasional, media, komunitas, serta kawan-kawan lainnya yang ingin terlibat untuk berbagi apapun untuk membuka ruang kebersamaan antar sesama.

Kampung Kolase Project Baur #1 20 |laughonthefloor.comKarya individual yang dipamerkan di depan tembok rumah warga

Kampung Kolase Project Baur #1 14 |laughonthefloor.comSalah satu karya kolase mural

Kampung Kolase ini merupakan kegiatan perdana ba.ur, mereka mengajak warga Siliwangi yang konon akan tergusur rumahnya karena program pembuatan taman kota, untuk mengekspresikan opininya melalui seni. Selain itu juga untuk membangun silahturahmi antar warga dan ruang kebersamaan antar sesama.

Kampung Kolase Project Baur #1 23 |laughonthefloor.com

Kampung Kolase Project Baur #1 18 |laughonthefloor.comBeberapa karya individual (atas dan bawah)

Kampung Kolase Project Baur #1 19 |laughonthefloor.comSalah satu karya kolase mural

Karya-karyanya cukup menarik, masing-masing karya gunting tempel ini menggabungkan self potrait dengan hasil temuan objek dari kertas bekas. Sebagian besar karya individual yang dibuat ibu-ibu didominasi oleh tema flora dan fauna yang nampaknya begitu dekat dengan keseharian mereka. Sementara karya anak-anak berangkat dari kegemaran, imajinasi, serta harapannya, seperti bermain boneka, pilihan gambar beruang karena kesukaan menonton Masha and The Bear, imajinasi di hari ulang tahun ke-29, keinginan untuk memiliki mobil, dan masih banyak lagi. Masing-masing karya dibuat dengan jujur, tulus dari dalam hati, seperti yang satu ini, sebuah karya kolase mural yang dibuat oleh kelompok Ibu Daim, diberi judul “Sayap Pelindung”. Melalui karya yang membentuk dua belah sayap, kanan dan kiri, terdiri dari objek tumbuhan, hewan, dan wanita ini, mereka menaruhkan sebuah harapan. Harapan bahwa sayap ini dapat melindungi warga Kampung Kolase dari penggusuran dan pembongkaran rumah, agar dapat terus melanjutkan hidup.

Kampung Kolase Project Baur #1 15 |laughonthefloor.com“Sayap Pelindung”, kolase mural buatan kelompok Bu Daim

Berikut, beberapa foto lain yang miss Flamingo tangkap ketika berkunjung ke Kampung Kolase. Just enjoy the show!

Jangan segan tuk stalking-in @baur.project di Instagram mereka untuk info-info proyek selanjutnya, atau intip website mereka www.ba-ur.net.

Hatur nuhun nona Unis yang sudah ajak miss Flamingo bertualang, juga buat Zahra dan Shalwa si teman cilik baru, sampai jumpa lagi!

♥ ♥ ♥,

miss Flamingo

 

 

 

 

 

(Photo Courtesy by miss Flamingo)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply