Ilubiung Berkesenian

December 19, 2015

Satu tahun lalu di 2014, Alfi si gadis berambut bondol (begitu orang-orang menyebut potongan ala Demi Moore –miss Flamingo) datang ke Kampung Kreatif dengan niat di dalam hati ingin mengerjakan tugas kampus. Kampung yang berada di kawasan Dago Pojok ini memiliki gang sepanjang kira-kira 58 meter yang gelap, sehingga sering terjadi hal-hal kriminal yang meresahkan warga. Solusi jenius dari Alfi adalah, pasang lampu supaya terang. Tentunya lampu yang berkesenian dong, dan percuma rasanya jika Alfi yang membuat sendirian.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 1 | laughonthefloor.com

Alhasil diajaklah warga sekitar untuk ikut berpartisipasi dalam karya lampu yang dibuat dari tumpukan botol-botol plastik. Kebetulan di kampung kreatif ada Komunitas Taboo yang merupakan himpunan masyarakat di kampung Dago Pojok yang gemar berkesenian. Dengan mengajak teman lainnya, Alfi mengajak anak-anak warga sekitar beraktifitas kreatif mulai dari menggambar, bernyanyi, membuat patung hingga hanya bercerita menghabiskan waktu. Setelah gang pada akhirnya diterangi dan pameran selesai digelar, gang tersebut beralih fungsi jadi tempat berkumpul warga.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 5 | laughonthefloor.com

Anak-anak yang sudah terlanjur dekat dengan Alfi dan teman-teman mulai ketagihan diajak berkarya. Merespon kedekatan ini, para adik kelas Alfi yang kena gilir mendapat tugas kampus tertarik untuk meneruskan proyek yang dinamai Ilubiung ini. Ilubiung sendiri adalah kata yang berasal dari bahasa Sunda, dengan arti “turut serta”.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 3 | laughonthefloor.com

Di tengah kegundahan mahasiswa Seni Rupa yang dirundung segudang tugas, semacam ada kesepakatan untuk ingin mulai membuat karya yang melibatkan publik dan bukan hanya dinikmati diri sendiri atau tugas semata.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 6 | laughonthefloor.com

Jadilah teman-teman ini mulai mendatangi Kampung Kreatif sejak bulan Oktober dan aktif mengadakan berbagai kegiatan. Workshop yang diadakan kali ini digarap dengan lebih serius. Tak hanya bermain dengan anak-anak Kampung Kreatif, mereka juga tinggal, dan berbaur di sekitar warga. Akhirnya keterlibatan mereka tak berakhir di tugas semata, tapi turut melibatkan perasaan.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 9 | laughonthefloor.com

Karya yang dibuat bermacam-macam, dari cetakan tangan dengan gypsum; merancang kaos sendiri; membuat mandala; menggambar; membuat puisi; lagu hingga film; semua diikuti dengan antusias oleh anak-anak yang ilubiung alias turut serta.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 8 | laughonthefloor.com

Cerita yang yang memenuhi rongga-rongga kekosongan jiwa mahasiswa yang hampa pun tak terasa menumpuk dalam waktu beberapa bulan saja. Misalnya teman-teman bercerita tentang Arul, salah satu anak Kampung Kreatif yang secara literal kreatif dan tidak berhenti berbicara. Arul yang bukan asli warga Bandung tadinya sulit bergaul dengan anak-anak Sunda lainnya. Karena dipaksa bermain bersama, ketika Arul harus pulang lagi ke kampung sungguhannya di NTT, teman-temannya mengaku rindu berat dengan Arul.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 7 | laughonthefloor.com

Mengintip hasil karya anak-anak yang terlibat kemudian jadi pengalaman yang terasa menyenangkan. Emosi jujur dan ekspresif dengan jelas tertangkap. “Banyak juga di antara mereka yang tidak bersekolah, jadi kalau kita bikin kegiatan di sini lumayan buat menyalurkan ide-ide gilanya biar nggak nyasar ke hal yang aneh-aneh,” kata Andrita salah satu teman yang menemani miss Flamingo berjalan-jalan di Kampung Kreatif. Emosi anak-anak yang tinggal di pinggiran kota ini tentu berbeda dengan yang biasa diantar jemput dan ditunggui di sekolahnya. Ketika baru memulai kegiatan, Andrita dan teman-teman mengaku sempat kewalahan dan bingung menanggapi karya anak-anak yang kadang terasa terlalu kuat. Seorang anak ada yang terus menerus menulis “Aku ingin berontak” di beberapa karyanya, ada juga anak yang dengan tak bermaksud aneh menggambar lambang Anarki dengan cat merah diatas kaos yang akan dirancang, atau ungkapan-ungkapan lugas lainnya seperti “cewe teroris” karena baru saja bertengkar dengan temannya atau yang paling sering menggambar idolanya Viking, entah merujuk pada penggemar klub sepak bola Bandung atau bangsa Viking sesungguhnya.

Di Ilubiung project kedua ini, kolaborasi seni bersama warga akan menampilkan instalasi lampu dari paralon yang dikerjakan oleh pemuda dan remaja dari warga setempat. Di gang tempat berkumpul itu pula nantinya akan dipamerkan hasil karya anak-anak beberapa bulan ke belakang, dimeriahkan oleh festival jajanan ibu-ibu Kampung Kreatif.

Ilubiung Berkesenian di Kampung Kreatif Dago Pojok Bandung 4 | laughonthefloor.com

Mengutip kata dosen yang selalu diingat Andrita, seni di ruang publik yang baik bukan hanya sekedar mengintervensi ruang, tapi juga benar-benar melibatkan warga yang bergaul di sekitarnya sehingga ada perasaan memiliki untuk menjaga karya, dan tidak berlalu begitu saja.

“`

Main Yuk!

Ilubiung Forum berkolaborasi bersama teman-teman Kampung Kreatif Dago Pojok

dengan bangga mempersembahkan

⚡⚡⚡

“Ilubiung Project #2: Tonight You Belong To Me”

Festival ter- ‘GEMEZ’ saat ini yang akan menampilkan instalasi lampu, pameran seni, musik, film, dan keceriaan ?

1 9 DESEMBER 2 0 1 5
PEMBUKAAN FESTIVAL dan PAMERAN

1 9 – 2 1 DESEMBER 2 0 1 5
PAMERAN BERLANGSUNG

2 1 DESEMBER 2 0 1 5
DISKUSI

Intip IG mereka di @ilubiungproject dan Twitter @ilubiungforum 
?

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply