exhibition

Pengantar Pameran Kabar Angin : Gambar-gambar Iabadiou Piko

November 27, 2015

Kabar Angin : Gambar-gambar Iabadiou Piko

oleh Aulia Fitrisari

Menghabiskan kesehariannya dengan mencoret-coret kertas, Iabadiou Piko selalu menangkap gagasan spontan yang muncul di kepalanya untuk kemudian divisualisasikan ke dalam gambar. Ia mendeskripsikan gambarnya sebagai karya yang memiliki pola-pola fantasi dari kehidupan nyata. Sifat karya Piko sangat personal, aktivitas keseharian dan kondisi lingkungan sangat berpengaruh pada goresan-goresan yang membentuk gambar-gambarnya. Bagi Piko, menggambar adalah proses yang melebihi aktualisasi diri. Menggambar sudah menjadi kegiatan yang mengakar di dalam dirinya, menjadi adiksi yang sulit ia tinggalkan.

Inspirasi selalu mengalir begitu saja. Dengan menggambar Piko merasa dapat mengungkapkan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya dengan leluasa. Tak perlu uraian logis untuk menikmati karyanya. Baginya apa yang dihasilkan memang tak selalu teratur dan sulit untuk didefinisikan. Gambar-gambar Piko menjadi media dirinya untuk dapat “berbicara” bebas dan intuitif. Maka, tak pernah ada formula yang pasti dan konsisten saat ia memutuskan karya yang ia buat telah selesai atau belum.

Piko hanya menikmati pengalaman-pengalaman penciptaan itu. Ekspresinya pun keluar secara acak. Daripada bertujuan menampilkan susunan rupa yang menarik, gambarnya lebih bertujuan sebagai ruang kontemplasi diri. Dapat dikatakan, Piko mencari kenyamanan pribadi dari proses berkaryanya. Menggambar adalah sebuah upaya pembebasan, tentang bagaimana diri sendiri bisa benar-benar lepas dari kegelisahan.

Tak heran ia memberi kebebasan bagi orang yang berhadapan dengan karyanya. Tak masalah jika yang melihat kemudian merasa tidak nyaman, tidak mengerti, atau bahkan tidak merasakan apa-apa, karena Piko sendiri tidak membicarakan tentang gagasan. Gagasan gambar-gambar Piko adalah “tanpa gagasan”. Nampaknya ini yang membuat Piko bersikap terbuka dalam menerima pendapat orang lain, tak ada paksaan untuk menerima ungkapan garisnya.

Perupa yang menetap di Yogyakarta ini banyak bergaul dengan Komunitas Sakato, perkumpulan seniman-seniman rantau dari Padang. Interaksinya dengan para seniman di perkumpulan ini banyak membantu Piko untuk mengembangkan kekaryaannya. Meskipun demikian, tetap saja obyek yang ada dalam gambar Piko memiliki kemerdekaannya sendiri terkait dengan proses menggambar yang “otomatis”. Kemungkinan menemui rasa yang sama ketika membandingkan gambar Piko dan perupa abstrak lainnya memang sulit untuk dihindari. Piko menyiasatinya dengan sebisa mungkin untuk memasukkan unsur-unsur pembeda.

Piko memang menyediakan waktu khusus untuk menggambar, tapi tak pernah mempersiapkan gagasan apa yang akan ia gambar, karena ketika ia sengaja mempersiapkan gagasan, saat itu pula Piko mengalami kesulitan untuk memulai menggambar. Segalanya berlangsung secara alami tanpa terbebani.

Apresiasi Piko pada kebebasan kemudian tertuang pada penguasaannya di media kertas. Baginya kertas yang berukuran lebih kecil cenderung mudah untuk dikuasai daripada kanvas berukuran besar. Alat yang yang dipakai untuk melukis pun biasanya memiliki hambatan yang berbeda dalam penggunaannya, dibandingkan dengan alat menggambar yang menurutnya lebih dapat memaksimalkan ekspresi. Meskipun demikian, Piko dikenal sebagai perupa yang gemar bereksplorasi dengan alat yang digunakannya. Beberapa diantaranya adalah oil pastel, charcoal, willow charcoal, pensil 8B, pena, dan pensil warna. Hal lain yang membuat Piko begitu jatuh cinta pada menggambar adalah interaksi langsung tangannya dengan permukaan kertas, yang menampilkan emosi dalam bentuk dan garis. Inilah yang pertama kali menjerat Piko untuk mulai menggambar di tahun 2005, karena sebelumnya Piko bergelut di bidang fotografi dan hanya menggambar untuk keperluan pembuatan moodboard. Pada perjalanannya, Piko merasa bosan dengan fotografi yang memakan proses panjang untuk menyampaikan ekspresinya, hingga akhirnya ia memilih fokus untuk menggambar.

Tak ada karya yang dianggap gagal oleh Piko. Yang ada adalah karya yang dianggap belum selesai. Karya tersebut kemudian disimpan dan rutin dilihat. Saat ada perasaan ingin meneruskan, ia tinggal merespon karya itu hingga ia anggap memuaskan. Karenanya, banyak di antara karya Piko muncul dua penanda tahun yang berbeda dalam satu gambar.

Secara sederhana, konsistensi terhadap apa yang ia kerjakan menjadi kata kunci untuk mendeskripsikan diri Piko sebagai perupa. Kecintaannya pada menggambar menjadi alasan untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang terus dilakukannya saat ini. Piko secara leluasa memindahkan mimpi yang paling sulit diungkapkan, maupun realitas yang dihidupinya secara ekspresif ke dalam goresan-goresan gambarnya. Menggambar menaklukan ketakutan di alam bawah sadar seorang Piko dan menjadi bahan bakar bagi ledakan semangatnya.

Melalui pameran ini, LOTF mempersembahkan gambar-gambar Iabadiou Piko: sekumpulan cerita yang tercipta dengan leluasa selayaknya angin mengalir.

Pameran KABAR ANGIN - Gambar-gambar Iabadiou Piko di LOTF LOFT 3 | laughonthefloor.com

Pameran KABAR ANGIN - Gambar-gambar Iabadiou Piko di LOTF LOFT 2 | laughonthefloor.com

Pameran KABAR ANGIN - Gambar-gambar Iabadiou Piko di LOTF LOFT 1 | laughonthefloor.com

♥ ♥ ♥,

miss Flamingo

 

 

 

 

(Photo Courtesy by @andriantoandre)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply