Seniman Bandung Berkaryawisata ke Yogyakarta

April 10, 2015

Ketika duduk di bangku sekolah dulu, kegiatan pergi bersama-sama untuk memperluas pengetahuan a.k.a karyawisata jadi hal yang dinanti-nanti miss Flamingo. Kenapa? Karena belajar dengan duduk manis di belakang meja, membaca buku cetak, mendengarkan guru berceloteh sambil mencatat sepanjang 3 caturwulan, terasa membosankan. Oleh karena itu, waktu diberi kesempatan pergi ke museum, Kantor Pos, serta tempat-tempat lainnya bersama teman-teman untuk melihat secara langsung hal-hal yang selama ini hanya dipelajari dari buku dan kisah ibu guru, wah senang sekali rasanya.

Sepulang karyawisata, miss Flamingo sedikit sedih. Bukan sedih karena jalan-jalan sambil belajar ini harus berakhir, melainkan sedih karena harus bikin PR berupa makalah yang menceritakan perjalanan tersebut. Hmm dasar miss Flamingo pemalas ya hihi.. Tapi mungkin justru ‘kemalasan membuat PR di akhir karyawisata’ ini ga dirasain sama teman-teman seniman Bandung. Adalah Theo Frids Hutabarat, Eldwin Pradipta, Nomas Kurnia, Irfan Hendrian, Aulia Yeru, dan Zaldy Armansyah, keenam seniman ini telah menuntaskan karyawisata mereka pada akhir November 2014 dengan melakukan perjalanan ke Yogyakarta, menemui seniman-seniman senior yang sedikit banyak menjadi rujukan mereka dalam berkarya. Nah, justru akhir karyawisata ini bisa jadi merupakan sebuah awal yang menyenangkan bagi keenam seniman untuk menuntaskan PR mereka, yakni berkarya.

Metode pameran yang dikuratori oleh Chabib Duta Hapsoro ini menekankan asumsi di mana identitas bukanlah suatu hal yang ajeg dan terus berkembang. Melalui proses perjumpaan seniman Bandung dan Yogyakarta, mitos serta stereotip yang selama ini melekat dalam wajah seni rupa Badung dan Yogyakarta secara tak langsung mendapatkan konfirmasi melalui dialog-dialog yang terbangun.

Beberapa hari yang lalu, teman-teman Karyawisata kembali lagi ke Kota Gudeg, kali ini mereka akan melaporkan serta mempresentasikan ‘makalah’ mereka, berupa buah pemikiran yang didapatkan selama menjalani proses berkarya dengan metode ini dan karya akhirnya. Sayangnya, miss Flamingo yang turut melihat proses persiapan pameran ini sejak awal, ga bisa hadir dalam kegiatan bincang-bincang a.k.a artist talk yang digelar di Rumah IVAA – Yogyakarta, Kamis, 9 April kemarin.

Berikut, miss Flamingo ingin berbagi secuil memori dari balik layar Pameran Karyawisata yang akan dibuka pada Minggu, 12 April mendatang di Jogja Contemporary.

Pameray Karyawisata 7 | laughonthefloor.com

Pameray Karyawisata 2 | laughonthefloor.com

Pameray Karyawisata 1 | laughonthefloor.com(foto 1, 2, dan 3) Teman-teman Karyawisata ketika sedang bertukar pikiran sebelum melakukan perjalanan karyawisata ke Yogyakarta

Pameray Karyawisata 8 | laughonthefloor.comAulia Yeru menjumpai Eko Prawoto untuk memperdalam pemahamannya mengenai konsep ruang, keruangan, dan materialitas

Pameray Karyawisata 9 | laughonthefloor.comZaldy Armansyah menjumpai Joko Pinurbo untuk lebih mengerti persoalan struktur dan makna dalam karya seni

Pameray Karyawisata 10 | laughonthefloor.comIrfan Hendrian yang berhalangan hadir di pembukaan Pameran Karyawisata, menimba ilmu kepada A. T. Sitompul mengenai pengembangan dan urgensi seni rupa abstrak sekarang ini

Pameray Karyawisata 11 | laughonthefloor.comTheo Frids Hutabarat melakukan studi kepada Jumaldi Alfi dalam pengayaan praktik melukis dan perspektif otentik Alfi mengenai lukisan kontemporer

Pameray Karyawisata 3 | laughonthefloor.comRehat sejenak di depan Teater Garasi sebelum menyambangi Hahan 😀

Pameray Karyawisata 6 | laughonthefloor.com

Nomas Kurnia belajar kepada Uji “Hahan” Handoko mengenai praktik branding dalam seni rupa kontemporer Indonesia

Untuk mengenal mereka lebih lagi, silahkan intip catatan teman-teman Karyawisata di berkaryawisata.com

♥ ♥ ♥,

miss Flamingo

 

 

 

(Photo Courtesy by miss Flamingo and Chabib Duta Hapsoro)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply