music

Akhir Wawancara dengan Efek Rumah Kaca

March 16, 2016

“Tentang Penentuan Judul Lagu”

Apa yang terjadi di dalam mata Adrian sehingga bisa muncul warna-warna ketika mendengarkan lagu-lagu album ketiga?

Adrian: Waktu itu kondisi mata saya beda dengan sekarang. Dulu kalau dibilang bisa melihat, sebenarnya ga juga. Tapi dulu masih bisa respon cahaya. Masalahnya cahaya yang saya terima itu ga bisa saya kontrol. Ketemu cahaya sedikit, di mata saya ada dispersi warna dan itu sebenarnya menyulitkan. Sangat pusing karena warna di mata saya terus-menerus berubah.

Kadang ada kondisi mata saya ketika tenang warnanya lebih statis dan ga memusingkan. Menjadi tenang itu kalau misalnya cahaya lebih pudar, lebih remang, warna-warna yang berputar di mata saya lebih statis. Lebih pelan. Nah, ketika Cholil bilang soal ide warna itu, saya coba kondisikan saja mata saya. Saya dengarkan lagu-lagu itu saat malam sampai menjelang subuh, diulang-ulang terus.

Kenapa harus malam sampai jelang subuh?

Adrian: Karena pada waktu-waktu itu cahaya yang ada di mata saya pudar. Tidak menusuk. Warnanya tidak terlalu ramai sehingga perubahan warna di mata lebih tenang. Beda lagi kalau siang atau ketika ada cahaya yang lebih terang. Kondisi mata yang sedang seperti itu saya manfaatkan untuk terus-menerus mendengarkan lagu.

Saya kondisikan mata, ketika mendengar lagu ini, oh warna ini yang lebih dominan. Warna ini yang lebih nikmat. Ada unsur persepsi dari saya. Tapi ada juga unsur alamiah. Kenapa warnanya itu? Kenapa tidak ada hitam atau abu-abu? Karena pada saat itu kalau mata saya menerima cahaya pudar, tidak muncul warna hitam.

Kurun waktu tahun berapa kondisi mata Adrian seperti itu?

Adrian: Pada 2010 itu sempat menurun. Kalau sedang turun, warna yang ada di mata saya lebih gelap. Kadang cuma abu-abu saja. 2009 sempat naik sedikit. Saya bisa melihat banyak dispersi warna itu kira-kira 2010 akhir sampai 2011.

Kalau sekarang?

Adrian: Kalau sekarang sedang abu-abu. Kalau dulu bocoran warna lebih banyak. Pada saat-saat tertentu malah bikin pusing.

Kondisi matanya bisa berubah-ubah karena apa?

Adrian: Yang bermasalah itu kan retina saya. Retina itu sensor yang menangkap dan mengolah cahaya. Yang saya tahu dari dokter begitu. Jadi, karena retinanya bermasalah penglihatan saya jadi bermasalah. Karena retina itu yang menangkap cahaya pantulan dari benda-benda.

*Pada saat percakapan ini berlangsung Cholil tergerak untuk bertanya sendiri pada Adrian. “Gua juga belum sempet ngobrol banyak soal ini sama Adrian,” katanya*

Cholil: Jadi lu menangkap cahaya yang hadir, biru, merah itu melalui apa?

Adrian: Maksudnya gimana? Ya itu tadi…

Cholil: …Cahaya yang muncul itu benar-benar seperti itu atau lu membayangkan ada cahaya seperti itu?

Adrian: Ada cahaya. Tapi cahaya-cahaya yang muncul itu gua persepsikan. Misalnya begini: ah pada saat lagu ini, enaknya warna ini nih. Jadi cahaya warna itu bisa difokuskan di mata gua sehingga warna itu bisa jadi lebih dominan.

Cholil: Cahaya itu benar-benar ada seperti itu atau lu yang persepsikan begitu? Apakah memang dari dunia luar seperti itu atau itu sebenarnya hanya imajinasi lu aja?

Adrian: Cahaya itu memang ada dan tertangkap oleh mata gua.

Cholil: Jadi ketika lu mendengar lagu biru, memang ada cahaya biru?

Adrian: Ada, si biru itu ada. Si jingga juga ada.

Cholil: Tapi apa yang menyebabkan si ketika lu mendengar lagu biru itu muncul biru? Atau muncul hijau ketika lu dengar lagu hijau? Apa memang ada sinar warna hijau di luar sana?

Adrian: Nah itu ada unsur persepsi menurut gua. Persepsi dan imajinasi.

Cholil: Jadi begini, lu kan ada di tempat yang sama nih. Lu mendengarkan lagu di tempat yang sama kan. Dengan pancaran sinar dari luar yang juga sama dan statis. Lalu lu dengar musik yang berbeda dan  muncul warna yang berbeda-beda. Kekuatan sinar yang ada di luar kan sebenarnya sama, tapi warnanya kok bisa beda? Apa memang di luar juga berubah-ubah sinarnya?

Adrian: Di luar juga berubah-ubah. Tapi berubahnya tidak terlalu cepat. Pelan. Jadi cahaya itu juga gua kondisikan sebenarnya. Gua cari cahaya yang pudar. Jadi gua di kamar semalaman. Lampu kamar mati, tapi ada cahaya dari teras.

Cholil: Oke di teras ada cahaya, itu cahayanya statis? Atau berubah-ubah?

Adrian: Cahaya dari teras statis. Itu cahaya lampu.

Cholil: Berarti yang membuatnya berubah-ubah adalah diri lu dong? Kekuatan fisik lu, kekuatan imajinasi lu, persepsi lu? Gitu kan? Yang membuatnya berubah-ubah adalah lu kan?

Adrian: Kalau warna yang gua lihat itu riil. Kalau kondisi lagi bagus, mata gua bisa respon cahaya. Tapi responnya segitu doang.

Cholil: Gua sebenernya ingin menguji apakah benar lagu-lagu kita benar-benar memunculkan warna-warna itu pada mata lu. Yang gua tangkap tadi, situasi di luar sama. Cahaya sama. Berarti si lagu itu memang memberi impuls warna-warna itu keluar, begitu?

Adrian: Menurut gua itu ada dalam persepsi. Warna itu benar ada… (jawaban dipotong oleh Cholil)

Cholil: Bagaimana lu bisa menjelaskan bahwa dengan pancaran sinar yang sama, di mata lu bisa jadi beda-beda?

Adrian: Memang kondisi mata gua seperti itu. Sering pada kondisi seperti itu. Memang kondisi naik-turun, tapi sering seperti itu. Dalam kaitannya dengan lagu, memang ada unsur persepsi. Ada persepsi dalam diri gua ketika mendengarkan lagu itu walaupun warna berubah-ubah tapi ada yang paling tune. Dan biasanya warna itu lumayan statis. Ketika lagu itu ada lumayan statis. Warna yang gua pilih jadi judul bukan warna yang tiba-tiba nongol, tiba-tiba berubah, tiba-tiba nongol lagi, lalu berubah lagi. Bukan itu yang dipilih. Tapi yang statis. Bisa jadi lebih dari satu. Tapi untuk menentukan, biasanya gua pilih wah warna ini nih nikmat banget. Misalnya biru, warna biru nih enak banget. Nah di situ persepsi berperan. Jadi memang ada unsur persepsi.

Apakah pernah berubah, misalnya pada hari ini merah, lalu di kemudian hari jadi warna lain begitu?

Adrian: Gua nyoba-nya ga beberapa hari. Tapi semalaman. Seingat saya, di atas jam 7 malam sampai subuh.

Cholil: Sekarang dalam proses akhir-akhir rekaman lu pernah menguji lagi ga si warna-warna itu? Apakah benar lagu ini berwarna ini?

Adrian: Mata gua belum kembali mengalami kondisi yang seperti itu lagi. Jadi ga bisa diuji.

Cholil: Itu artinya apa, jadi sekarang lebih buruk dari dulu?

Adrian: Iya lebih buruk. Sekarang hanya bisa lihat hitam dan abu-abu.

Bisa balik ke kondisi itu lagi?

Adrian: Belum tahu. Masih berusaha berobat.

(Foto oleh Yose)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply