music

Kelanjutan Wawancara dengan Efek Rumah Kaca

February 28, 2016

“Tentang Kebuntuan dalam Berkarya dan Proses Membuat Lagu”

Pernah secara artistik merasa stuck?

Cholil : Sangat. Sangat merasakan itu. Terutama writers block. Menulis sekarang beda dengan dulu.

Bisa dijelaskan lebih rinci?

Cholil : Dulu saya ga mempertimbangkan apapun dalam menulis. ERK yang dulu bukan ERK yang sekarang. Dulu saya tidak pernah didengar orang. Tapi ya untuk album ketiga pada akhirnya ga bisa bohong juga. Saya ga bisa pura-pura ga pernah bikin albumnya. Sangat ingin seperti dulu lagi ketika menulis lagu itu tanpa beban. Saya ingin tolak itu semua. Inginnya seperti album pertama ga usah mikirin siapa-siapa. Tapi sekuat-kuatnya saya menolak pikiran itu, ya memang ga bisa sih. Memang sudah kenyataan kami punya dua album jadi ya sudahlah. Campur-baur itu perasaaannya, ada penyangkalan juga di sana. Saya ingin bikin sesuatu yang murni, tanpa ada pretensi apa-apa. Tanpa ada keinginan ngetop, tanpa ada keingingan mempertahankan orang yang dengar agar tetap suka, inginnya pertimbangan-pertimbangan dan pikiran-pikiran seperti itu tidak ada. Tapi ga bisa bohong juga. Apakah saya berhasil menyangkal itu semua? Ya belum tentu juga. Jadi ya sudah lah ya.

Bagaimana bisa keluar dari masalah itu?

Cholil : Akhirnya saya sangat berusaha tidak mempertimbangkan semua itu. Saya ga tau yang lain mikirin itu atau ga, tapi saya jelas mikirin. Misalnya begini, setelah kami bikin lagu di Udara atau Mosi Tidak Percaya, lantas apakah setiap ada peristiwa politik kami harus merespon? Atau kalau tidak merespon nanti sikapnya bagaimana? Kok saya jadi takut membuat lagu politik, takut dinilai mengambil sebuah peristiwa politik untuk kepentingan tertentu, dalam hal ini kepentingan saya, kepentingan ERK. Walaupun itu sebenarnya tidak bisa dihindari, setidaknya dari diri saya sendiri, tidak ingin lagu itu dikomodifikasi. Akhirnya setiap menulis saya jadi mikir, mau nulis apa ya? Di zaman sekarang yang semua orang sudah bisa ngomong. Beda dengan zaman 2000-an di mana media sosial belum seperti sekarang.

Kalau mau suatu hal yang kami ga rasain, kayanya palsu. Mau bikin saja seperti pesanan orang, susah juga. Maksudnya, saya inginnya ada perasaan terpanggil. Misalnya pun kami ga rasain, tapi setidaknya ketika menghimpun informasi inginnya tulus, tanpa tujuan untuk bikin lagu. Inginnya itu tiba-tiba satu tema masuk ke kepala dan, beuggh! Bikin marah, kemudian muncul keinginan menjadikannya lagu.

Nyari yang itu tuh sepertinya susah. Pada proses pembuatan lagu juga saya banyak berpikir, reaksioner banget ga sih kalau misalnya bikin lagu tentang media sosial, atau apalah. Karena yang lagi in ya begitu. Kalau mau mengomentari kehidupan sosial sekarang, ya apa ya? Ketakutan-ketakutan itu selalu ada, itulah writers block.

“Kalau lu boy gimana?” Cholil bertanya pada Adrian.

Adrian : Kalau saya lebih lepas. Karena lirik yang saya tulis tidak sebanyak Cholil. Album satu dan dua lebih banyak Cholil. Untuk tema lagu lebih banyak datang dari Cholil. Lalu kami banyak ngobrol-ngobrol. Yang saya tangkap dari obrolan itulah yang dibikin jadi lirik.

Cholil : Setelah Adrian bikin, baru saya edit. Semua lagu prosesnya seperti itu. Saya yang menyesuaikan jumlah suku kata dengan melodi nyanyian. Lirik dari siapapun saya yang edit karena yang menyanyikan kan saya. Lagu Kuning juga saya edit. Soal Tuhan kan, jadi harus hati-hati juga nih.

Bagaimana cara kalian menentukan tema lagu?

Cholil : Ngobrol sih. Kalau tema biasanya dari saya, lagu ini tentang ini. Tapi banyak juga yang akhirnya berubah dari ide awal. Misalnya lagu Merah. Awalnya kami ingin bikin lagu tentang korupsi.

Adrian : Tadinya ingin membahas dari tiga sudut pandang. Makanya disiapin tiga lagu. Itu awalnya dari tema besar korupsi.

Cholil : Sudah dari dulu banget muncul keinginan itu. Tapi akhirnya ga jadi. Inginnya lagu itu menceritakan kematian orang secara ekonomi, secara politik, secara sosial. Ya koruptor itu. Lalu dibagi yang pertama bicara kematian secara ekonomi, kedua politik, ketiga sosial. Sudah dibikin seperti itu. Tapi aduh, setelah sempat dibikin kok ga enak ya. Rasanya terlalu gimana gitu.

Sempat mencoba menggarap lagu korupsi itu?

Cholil : Ga pernah juga akhirnya. Padahal Adrian udah sempat bikin lirik.

Adrian : Iya, ada katrok (jelek) tapi.

Cholil : Ya begitu deh. ternyata susah bikin lagu korupsi itu. Ampun. Padahal saya bisa bikin lagu korupsi atas nama Indie Art Wedding dulu dan ikut kompilasi ICW. Adrian juga sempat bikin untuk kompilasi album Perangkap Tikus. Tapi kalau Efek Rumah Kaca itu butuh suatu artistik tertentu yang ingin dicapai.

“Ya ga sih? Lu setuju ga sama gua,” tanya Cholil pada Adrian.

Adrian : Iye.

Cholil : Iya, kenapa kok susah ya atas nama Efek Rumah Kaca bikin lagu tentang korupsi. Akhirnya, saya juga tidak tahu kapan tepatnya, kami berubah pikiran jadi lagu Merah tentang ini saja deh.

Capaian artistik macam apa yang jadi target ERK ketika bikin karya untuk album ketiga?

Cholil : kami inginnya lagu-lagu itu bisa menggerakkan diri sendiri. Kami ingin lagu-lagu itu lumayan menggerakkan. Kenapa? Karena ke depan kami akan sering sekali memainkan lagu ini. Jadi ga ingin lagu itu ga punya kekuatan bagi diri kami sendiri.  Kalau tidak punya kekuatan pasti akan sangat membosankan.

Nah, kalau soal korupsi mau ngomongin apalagi sih? Kita sudah lihat setiap hari di koran dan televisi. Jadi apa lagi yang ingin diomongin? Kita tidak begitu memikirkan apakah lagu itu menggerakkan orang lain atau tidak. Yang penting itu bagi diri sendiri dulu. Ternyata tema korupsi ga works buat kita. Beda misalnya dengan lagu Sebelah Mata yang menurut kami sangat kuat. Lagu itu bercerita tentang Adrian menjalani ini semua. Lagu Desember juga works buat kita. Ada sesuatu yang baru setiap kali kami mainkan. 

Adrian kan banyak bikin lagu pada album, dapat energi dari mana?

Adrian : Sudah lama sebenarnya. Sejak album kedua saya terus bikin lagu. Saya merasa saya termasuk yang rajin bikin lagu. Kalau lirik sebenarnya karena saya sering ngobrol sama Cholil, sering dengerin di mobil, lalu ngobrol : “Lil, ini enaknya tentang apa ya?” Bedanya kalau lagu-lagu yang dulu, saya terpanggil sendiri untuk menulis. Kalau album yang sekarang, lebih banyak dari hasil obrolan kemudian dijadikan lagu.

ERK punya jadwal latihan rutin?

Cholil : Ga ada sih, sejak Adrian off ga ada jadwal latihan khusus. Kadang kami hanya telpon-telponan saja. Karena saya dan Akbar sering manggung dan Adrian tidak ikut. Jadi memang kami mempersiapkan hal-hal lain yang harus diatasi karena Adrian tidak bisa hadir. Latihan dengan Poppy, dengan gitaris lain. Tapi justru di situ Adrian punya banyak waktu untuk bikin lebih banyak karya.

Adrian absen saat manggung jadi punya banyak waktu buat ngulik lagu. Apakah ada pengaruh pada perkembangan cara membuat lagu?

Adrian : Saya ngulik lagu bisa setiap hari di rumah. Tapi saya baru benar-benar merasa ada perbedaan permainan bas antara lagu-lagu album sebelumnya dengan yang sekarang justru ketika album itu sudah selesai direkam.

Tadi itu kan stuck dari segi pembuatan lirik. Kalau stuck dari segi musikalitas apakah pernah? Misalnya, kesal dengan diri sendiri karena permainan seperti itu terus?

Cholil : Wah, kalau itu sih sudah menahun. Langsung ciut nih gue kalau ngomong soal skill. Kita memang ga berusaha membuat permainan lebih benar secara teknis. Kami ga kursus, ga melakukan apa lah yang bisa meningkatkan skill permainan.

Apakah ERK masih suka ngulik-ngulik lagu orang untuk meningkatkan skill?

Cholil : Wah, ga sih. Udah ga pernah.

Akbar : Wah, gua juga ga pernah sih.

Cholil : Sekarang sih minta tolong orang kalau butuh permainan-permainan dengan teknik tinggi. Jadi kami berusaha, okelah, untuk beberapa hal ya sudah kacau lah ya. Maksudnya, kami tidak melakukan hal-hal meningkatkan skill kami. Usahanya tuh lebih kepada melakukan hal-hal yang belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Yaitu?

Cholil : Misalnya Biru, kami belum pernah bikin lagu seperti itu. Jingga juga. Okelah lagu Hilang kita anggap sisa-sisa yang kemarin, masih mirip album satu dan kedua. Tapi ada juga hal yang belum pernah kita lakukan, misalnya memasukkan nama-nama orang yang hilang. Di lagu-lagu yang lain misalnya, kami main gitar solo panjang, delay panjang, dengan solo bas dan drum yang sangat panjang, kami juga belum pernah melakukan itu. Kami mengakali ketiadaan skill kami dengan hal-hal seperti itu. Lalu yang instrumental, kami juga belum pernah lakukan. Lalu seperti lagu Merah, kami main dengan keyboard, di belakang gitar seperti itu, not vokal seperti itu, komposisi paduan suara seperti itu, kami belum pernah melakukan yang seperti itu. Kami pasti menjaga agar kami tidak begitu-begitu saja.

Termasuk soal durasi?

Akbar : Kami juga berpikir untuk melakukan itu.

Cholil : Iya kalau soal durasi kami juga memikirkan itu. Memangnya apa sih yang dimaksud dengan lagu itu? Apakah lagu itu hanya rangkaian nada-nada saja. Atau ada struktur baku, song, bridge, reff. Atau gimana gitu? Apakah progresif rock itu? Apakah kalau lagu panjang begini tapi tidak progresif rock tetap dinamakan progresif rock? Ya yang gitu-gitu lah yang sebenarnya kami juga tidak menemukan jawaban tapi kami coba saja.

bersambung..

(Foto oleh Yose)

You Might Also Like

1 Comment

  • Reply Gilar Jodi September 14, 2016 at 6:29 pm

    Lha, lanjutannya mana..?

  • Leave a Reply