music

Sebuah Wawancara dengan Efek Rumah Kaca

February 10, 2016

“Kami Sudah Terlalu Banyak Bullsh*t”

Mereka menyebut lagu-lagu dalam Sinestesia seperti sebuah kolase. Terbuat dari keping-keping ide yang terserak di kamar berkarya Efek Rumah Kaca. Ada berapa keping-keping ide itu? Barangkali ada ratusan. Dikumpulkan sedikit demi sedikit selama enam tahun, dibikin tanpa mereka tahu ini akan jadi lagu apa dan bentuk akhirnya bagaimana. Yang kita dengar hari ini di album Sinestesia hanya sebagian saja. “Banyak ide sudah direkam, dihapus, rekam lagi, hapus lagi. Proses itu sangat menyiksa,” kata Cholil Mahmud, vokalis dan pemain gitar di ERK.

Selang tujuh tahun setelah rilisnya album kedua mereka, akhirnya Sinestesia keluar juga. Tanpa banyak babibu, tanpa perlu ritual-ritual promo dan teaser-teaser yang lebih sering bikin orang sebel ketimbang penasaran, ERK merilis Sinestesia. Tiba-tiba muncul begitu saja di iTunes pada pertengahan Desember 2015. Sepekan kemudian rilisan fisik menyusul. Janji yang sudah diumbar sejak tiga atau empat tahun lalu akhirnya tunai juga. “Kami sudah terlalu banyak Bullsh*t. Janji akan segera bikin tapi ga pernah ada,” kata Cholil.

Peluncuran album segera disusul pesta rilis Sinestesia yang digelar di Teater Jakarta, awal Januari lalu. ERK seolah menetapkan standar baru dalam dunia musik baik independen maupun komersial dengan kualitas pertunjukan musik dan artistik panggung yang melelehkan akal dan meminderkan hati semua pekerja seni itu. Selang sebulan kemudian, ERK menyatakan vakum karena Cholil akan segera berangkat ke Amerika menyusul istrinya yang kuliah di sana.

Demi menghibur hati yang sedang lara karena ERK tak akan manggung-manggung lagi dalam waktu yang agak lama, bolehlah kita membuat transkrip wawancara dengan mereka untuk dibaca handai taulan sekalian. Wawancara ini dilakukan pada pertengahan Desember 2015, selang sepekan setelah rilisnya Sinestesia. Karena lumayan panjang, jadi wawancara dibagi dalam tiga bagian.

Berikut petikan wawancara kami dengan Cholil, Adrian Yunan Faisal (vokal dan bas), dan Akbar Bagus Sudibyo (vokal latar dan drum):

TENTANG PROSES PEMBUATAN ALBUM

Mengapa bisa sampai 7 tahun?

Cholil Mahmud: Albumnya sebenarnya tidak dikerjakan selama tujuh tahun. Mungkin enam tahun. Dan di dalam enam tahun itu pun bukan yang dikerjakan terus, tapi dicicil. Setelah selesai rekaman kemarin, kami coba cari lagi file rekaman tertua itu Desember 2009. Itu adalah take drum lagu Hilang. Waktu itu ada proyek Amnesti Internasional, kami bikin lagu itu untuk itu.

Akbar: Hilang adalah setengahnya lagu Jingga.

Setahun setelah Kamar Gelap?

Cholil: Iya, setahun setelah Kamar Gelap. Tapi pada saat itu kami belum terpikir untuk bikin album.

Akbar: Dan sedikit bagian dari lagu Nyala Tak Terperi sudah ada. Tapi saat itu belum tahu mau dibikin jadi apa. Dan juga belum disambung seperti sekarang.

Adrian: Sebagian lagu-lagu di dalam Sinestesia itu sudah ada sejak 2009. Tapi karena banyak bagian yang dirombak, hanya sedikit yang tersisa utuh. Lebih banyak yang bentuknya berubah total. Antara ide awal dengan hasil akhir jauh berbeda. Salah satu yang utuh itu Pasar Bisa Diciptakan, dari dulu sampai sekarang sama. Kalau Hijau itu berubah terus. Sampai mau take vokal juga masih berubah bentuknya. Dan dapat melodi vokalnya itu baru-baru, belum berapa lama.

Cholil: Merah juga berubah. Yang mepet banget sampai akhir-akhir masih dirombak itu Merah dan Hijau. Itu baru Oktober-November selesai. Sebelum saya berangkat ke Amerika, itu kami sudah merasa musik sudah final jadi tinggal bikin lirik dan not melodi. Yang sudah selesai itu Jingga dan Biru. Rencananya saya nge-take vokal di sana (di Amerika). Wah gila, ternyata parah. Saya bahkan sudah beli microphone condenser, stand microphone. Memang sudah niat sekali. Dari Jakarta saya bawa soundcard. Wah itu parah banget niatnya, akhirnya gak jadi. Sepekan sebelum saya cabut itu kami kami buka studio untuk take vokal. Sampai hari-H berangkat masih tidak terkejar.

Akbar: Sampai dia mau berangkat belum ada juga liriknya padahal studio masih buka. Masih kami sewa. Tapi ternyata tidak terkejar, ya sudah ditutup.

Cholil: Akhirnya ya sudah, saya bawa laptop, bawa soundcard. Sampai ke sana bawa laptop dua, satu buat musik satu buat kerja. Di sana beli mic, beli kabel, wah ya akhirnya gak kepake. Apalagi kerjaan kuliah banyak banget tugasnya.

Akbar: Pegang buku mulu. Gitar mah lewat sudah.

Cholil: Ya gitu deh.

Adrian: Buku sama piano. Kalau di Amerika dia piano biasanya.

Akbar: Hahahaha…

Cholil : Saya sebel dengan proses rekaman album pertama dan kedua karena, ya waktu itu karena kami miskin, dana terbatas, juga ada keterbatasan ilmu rekaman, kadang-kadang kami gak enak sama yang punya studio karena kami ingin irit tapi ingin bagus juga. Nah ini album ketiga karena kami punya uang kas dari manggung-manggung, ya sudah kami coba metode lain. Buka saja studio dan kami rekaman dengan santai. Kami ingin lihat ini eksplorasinya akan sejauh mana sih? Tidak ada deadline. Tapi setelah dipikir-pikir, ternyata gak bagus juga kalau gak ada deadline. Apalagi gak ada kejelasan juga lagunya akan jadi seperti apa. Kapan kita akan berhenti mengaransemen? Tidak jelas.

Akbar: Selalu saja ada yang terasa kurang. Jadi lagu dibongkar terus.

Cholil: Nah setelah pulang dari Amerika, dari sebelum pergi kan juga sudah bilang ini tinggal lirik saja. Tapi setelah lirik dimasukkan kok ya nadanya jadi gak enak ya? Setelah ada lirik kok nadanya jadi aneh? Hal seperti itu terjadi di banyak lagu. Akhirnya setelah lirik ada, nada jadi ikut diganti. Aransemen juga ikut ganti karena ada banyak part gitar yang merespon vokal.

Akbar: Bas juga ganti banyak.

Cholil : Ya begitu. Di akhir-akhir kami sadar, metode terbuka tanpa ada deadline bukan ide bagus. Gak bagus juga buat proses kreatif. Harus ada yang bilang…

Akbar : …bilang stop ya. Harus ada ujungnya. Stop.

Cholil: Nah saat saya sudah pulang, datang ke Indonesia, ya saya bilang ini harus jadi sesuatu nih. Kami sudah terlalu banyak banget bullshit, janji-janji tapi gak ada-ada. Ya gak bullshit juga sih. Kami berusaha bikin. Tapi memang gak selalu setiap saat. Di sela-sela manggung ya berusaha explore tapi karena gak ada deadline akhirnya jadi terlalu enjoy. Gak jadi-jadi juga tetap santai, enjoy.

Padahal sudah sejak lama sekali menjanjikan akan rilis?

Cholil: Bahkan pernah pada saat itu diwawancara majalah Hai, dia minta dikirimin file lagu terbaru. Itu tahun 2012. Ya saya kirim lah.

Akbar: Oh lu kirim tuh?

Cholil: Saya kirim lah lagu Putih. Tapi waktu itu belum Putih judulnya. Ya pokoknya begitu. Wah itu tahun berapa ya? Dosa banget nih janji-janji.

Apakah akhirnya dipublish lagunya?

Cholil: Kayaknya gak deh. Waktu itu saya juga gak memeriksa. Gak beli majalah Hai nya juga. Tapi kayaknya gak jadi dirilis karena mungkin mereka rasa terlalu mentah. Ya waktu itu juga sudah dibilang, ini file masih mentah banget. Akhirnya pulang dari sekolah sudah berketetapan, ini harus ada yang jadi nih. Akhirnya kami buka lagu Biru. Sudah ada liriknya tapi belum dapat mixing yang enak. Tapi ya sudah deh, waktu itu akhirnya diolah lagunya. Coba di-mixing dan mastering. Jingga dan Biru coba diolah dulu.

Jadi selama proses rekaman ini kan kami sudah berulang-ulang kali mendengarkan. Tapi masing-masing punya gacoan sendiri (andalan/lagu kesukaan). Dan itu lagu-lagu baru. Kalau lagu seperti Pasar Bisa Diciptakan itu kan sebenarnya lagu lama. Kami gak mengarah ke sana. Lagu itu tidak merepresentasikan ERK yang sekarang. Akhirnya ya sudah deh, itu gak jadi patokan kita.

Tapi justru itu lagu itu dirilis duluan?

Cholil: Iya karena kami mencari lagu yang masih ada irisannya dengan ERK yang dulu. Jadi lagu itulah yang dipilih. Waktu itu dirilis via Rolling Stone dan ternyata responnya lumayan juga di luar dugaan.

Akbar: Alhamdullilah.

Cholil: Menurut kami aneh karena kami sudah lama vakum. Band lama juga. Tapi masih diterima seperti itu.  Bahkan menurut Rolling Stone itu lagu yang tertinggi download-nya dalam sejarah mereka. Sebelumnya yang paling tinggi itu Seringai dalam dua hari sampai 20 ribu. Kami hampir 100 ribu dalam waktu sebulan. Tapi dalam dua hari juga lumayan jauh dengan rekor Seringai. Itu bikin kami kaget. Setelah rilisan Rolling Stone itu kami rilis saja yang versi full di Soundcloud, sebagai pemberitahuan pada khalayak bahwa ERK itu aktif lagi dan akan rilis. Di Soundcloud kami rilis yang versi penuh. Menurut kami, lagu itu merepresentasikan sesuatu yang baru dari ERK. Kami belum pernah main seperti itu sebelumnya.

Akbar : Dengan groove seperti itu belum pernah.

Cholil : Kalau Pasar Bisa Diciptakan, kami sudah pernah lah main dengan gaya seperti itu. Itu tipikal lagu Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa. Tapi kalau Cipta Bisa Dipasarkan itu kami belum pernah memainkan lagu dengan gaya seperti itu. Jadi kami merasa perlu memberitahu publik. Oke akhirnya dirilis di soundcloud. Setelah itu lalu kami bikin konser, di konser itu kami rilis Putih.

Akbar : Nama konsernya Pasar. Pasar Bisa Dikonserkan.

Cholil : Dan itu mepet banget rilisnya, baru jadi beberapa jam sebelum konser. Tapi akhirnya jadilah dibagikan di hari itu. Dan akhirnya beberapa hari kemudian dibagikan di Soundcloud merespon konser. Konser yang ternyata banyak yang kecewa. Ya itu saya pikir salah kita juga lah. Mereka (EO) bekerja mewakili ERK.

Banyak yang bilang ya untuk apa minta maaf karena itu bukan salah kami. Tapi gak seperti itulah. Saya tidak masalah sama sekali minta maaf. Saya merasa sekalinya kami diberi kesempatan melayani orang, kami gagal. Itu adalah pukulan telak bagi kami. Kayak istilahnya elu di lagu-lagu elu teriak-teriak segala macem, tapi ketika ada kesempatan untuk melayani orang, elu gak melakukannya dengan baik. Lagu kami kan protes segala macam, memprotes orang yang seharusnya melayani elu misalnya pemerintah. Tapi giliran kami yang harus melayani orang, elu juga gak melakukannya dengan baik. ERK dalam hal ini kan harus melayani orang karena orang lain datang ke sana bayar. Oleh sebab itu kami merasa perlu minta maaf.

Apakah dalam membuat karya ERK memikirkan lagu-lagunya radio-able atau tidak? Laku atau tidak?

Cholil : Ketika bikin kami tidak peduli apakah ini akan dimainkan di radio atau tidak. Itu baru dipikirkan setelah lagunya jadi. Dan kalau dilihat-lihat kelihatannya ga akan diputar di radio ya. Jadi ya sudah dibagiin gratis saja.

Cholil: Setelah main di rrrecfest akhirnya kami garap lagi. Jadi awalnya kami kira cuma garap vokal saja. Tapi ternyata ya itu tadi ternyata berubah semua. Yang musiknya tidak berubah itu hanya Hijau. Sisanya masih berubah-ubah.

Akbar: Ya karena ada tambah flute juga. Paling ribet itu bikin Merah. Karena berubah terus.

Efek Rumah Kaca difoto oleh Yose 2 | laughonthefloor.com

Apa yang menyebabkan kalian terus mengubah aransemen? Tidak puas secara artistik?

Akbar : Pemicu memang lirik kali ya? Ya ga sih?

Cholil : Kalau pemicu ga juga. Kalau dilihat memang proses pengerjaan album ini berbeda dari dua album sebelumnya. Album pertama kan kami latihan di studio, dibikin sampai jadi, setelah jadi baru masuk studio seterusnya rekaman. Setelah rekam di studio baru mikir-mikir, nah ini kayaknya ditambah ini enak nih, atau ditambah apa enak nih. Album satu dan dua seperti itu model penggarapannya.

Kalau album ketiga sama sekali tidak ada yang digarap di studio. Jadi kami sebenarnya belum tahu memainkan lagu itu caranya bagaimana karena kami baru tahu lagunya seperti apa setelah rekaman selesai. Kami sedang latihan lagi ini sekarang bagaimana cara memainkannya. Kita belum bisa mainan, belum tahu.

Makanya layer instrumen bisa begitu banyak melebihi jumlah personel ya?

Akbar: Iya banyak banget. Gitar bisa sampai ada empat.

Cholil: Ada masanya tu saya bikin segala macem di rumah. Ada ide rekam, timpa lagi, timpa lagi sampai ada banyak sekali layer. Sampai saya pusing pas didengar lagi. Ya sudah akhirnya hasil-hasil rekaman itu banyak yang dihapus. Dengar ini, ga cocok, hapus. Ga cocok, hapus. Itu lumayan ngabisin waktu dan menyiksa sekali proses menghapus-hapus layer gitar itu. Nah karena kami prosesnya beda, jadi pas bikin lagu itu kami sebenarnya tidak tahu ini ke mana arahnya? Mau jadi seperti apa lagunya. Mau gambar apa ini kami tidak tahu.

Akbar: Saya juga jadi ketiban sial karena saya di paling depan. Nah ini cuma dikasih ide gitar saja, brangbrengwuauwuawuuw, ini lagu kedengerannya gimana ga tahu ya sudah saya isi saja sampai selesai walau ga tahu juga ini lagu jadinya bagaimana. Gila sih itu, agak nekat juga.

Adrian : Saya ngisi bas masih asing juga.

Jadi lagu itu baru ketahuan bentuknya setelah rilisan jadi?

Cholil: Iya, persis. Makanya kami masih senang mendengarkan album ini karena baru tahu lagunya jadinya begitu. Beda dengan album sebelumnya. Biasanya kami sudah muak mendengarkan lagi karena proses pengerjaannya lama, satu lagu bisa didengar sampai puluhan kali. Mulai dari latihan, awal jadi, hasil rekaman, mixing, mastering, duplicating saja dulu ketika kami masih D.I.Y. (Do It Yourself) itu juga masih kami dengarkan lagi. Ngeri di-complain orang jadi dengerin sendiri. Ketika semua selesai sudah muak sekali. Nah kalau ini beda. Didengerin malah jadi bingung. Wah ini gua maininnya gimana ya? Ini gimana dulu pas bikinnya ya?

Gua sama Adrian waktu kecil suka Prog (progresif rock). Termasuk Proca Harum, Moody Blues, Canterbury Scene, dan Pink Floyd.

Kenapa ga pake metode jamming sama seperti album satu dan dua?

Cholil : Ga bisa, karena sulit. Waktunya susah.

Akbar: Dan Adrian pada saat itu sedang parah-parahnya. Sering Anfal. Itu 2009 Adrian sedang parah-parahnya. Hanya sempat garap Putih saja waktu itu.

Adrian : Sebenarnya PR kita adalah saat hendak bikin jembatan antar lagu. Di lagu Putih itu jembatannya terasa enak karena hasil jamming. Sementara yang lain tidak seperti itu.

Apa salah kalau dikatakan ERK menemukan metode baru untuk membuat lagu mengikuti kondisi Adrian?

Cholil : Ya ga tahu juga disebut ketemu atau tidak. Tapi akhirnya jadi, ya boleh juga dibilang ketemu. Tapi ini tidak disengaja.

Adrian : Kalau dari saya merasa, dibanding album satu dan dua mainnya berbeda. Dulu ketika menyusun lagu, kami sempat ngobrol, kira-kira bagaimana nih album tiga? Saya blank banget soalnya.

Cholil: Sering banget saya datang ke studio, lalu ga tahu harus ngapain. Mau ngisi apa ya? Akhirnya malah ngobrol lama.

Akbar : Ya kita sudah terbiasa dengan jamming, ketika itu tiba-tiba tidak bisa jadi awkward juga.

Cholil: Sempat sudah sewa studio untuk bikin lirik, tahunya ga jadi-jadi juga liriknya. Pada saat itu kami mikirnya begini: ini lagu kalau ga dipaksain ga akan jadi-jadi. Ya sudah kami sewa studio, buang uang untuk sewa tapi minimal ada hasilnya daripada nunggu-nunggu apa lah itu bullsh*t tapi ga ada hasilnya. Jadi ya sudahlah, mending buang uang tapi ada progres. Jadi kami di studio. Oke mau isi apa nih? Belum tahu. Saya selalu menghindar ya sudah gitar nanti, musik dulu yang penting. Sempat itu saya selalu menghindar bilangnya mau mikirin lirik dulu.

Sampai kapan seperti itu terjadi?

Cholil: Itu sampai November (2015) kemarin terus seperti itu.

Akbar : Sampai menit-menit terakhir.

Cholil : Dari segi lirik juga saya ga pernah yakin, sebenarnya mau ngomongin apa ya di lagu ini? Itu juga yang bikin lama. Ada sih kepikiran tema, tapi benar-benar ga tahu mau ngomongin apa. Sekali waktu musik sudah jadi, oke tinggal ambil vokal. Vokal dah di-take, besok didengerin lagu, wuah anjr*t jelek gini liriknya. Jadi besoknya dirombak lagi. Proses itu sangat painful. Nah ada masalah lagi. Dulu rumah saya di Pondok Cabe, dekat dengan studio. Sekarang di Kuningan. Kalau rekaman jam enam sore, saya harus berangkat jam tiga dari Kuningan. Sampai-sampai di studio itu sudah ga bener itu rasanya di studio. Udah capek. Emang lumayan parah dua bulan terakhir.

Akbar: Kami masih manggung pula dua bulan kemarin.

Cholil : iya dua bulan terakhir ritmenya parah sekali. Tidur empat jam sehari. Pulang dari studio tengah malam, pagi-pagi antar anak sekolah.

bersambung..

(Foto oleh Yose)

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply